Deep Work vs Multitasking: 5 Fakta Ilmiah Metode Terbukti Paling Produktif

Deep Work vs Multitasking: 5 Fakta Ilmiah Metode Terbukti Paling Produktif. Temukan mengapa fokus mendalam jauh melampaui multitasking.

Aug 18, 2026 - 21:52
 0  3
Deep Work vs Multitasking: 5 Fakta Ilmiah Metode Terbukti Paling Produktif
Ilustrasi digital yang membandingkan fokus mendalam metode deep work dengan stres akibat multitasking di tempat kerja.

Pengenalan: Mencari Tahu Metode Kerja Terbaik di Era Digital

Dalam dunia modern yang serba cepat dan hiper-konektif ini, perdebatan antara Deep Work vs Multitasking menjadi salah satu diskusi paling krusial di kalangan profesional, pelajar, maupun akademisi. Setiap hari, kita dibombardir oleh ratusan notifikasi dari berbagai aplikasi, email yang tak ada habisnya, dan tuntutan untuk merespons pesan secara instan baik dari atasan maupun rekan kerja. Kondisi lingkungan yang sangat bising secara digital ini sering kali memaksa banyak orang untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu, atau yang biasa dikenal secara luas dengan istilah multitasking. Di sisi lain, muncul sebuah konsep perlawanan yang menawarkan solusi berbeda secara drastis, yaitu metode deep work, yang menekankan pada fokus penuh yang tak tergoyahkan tanpa adanya gangguan sedikit pun. Pertanyaannya sekarang, berdasarkan rentetan fakta dan data ilmiah dari berbagai penelitian terbaru, metode manakah yang sebenarnya terbukti secara empiris paling produktif untuk diterapkan dalam jangka panjang?

Banyak dari kita mungkin merasa sangat produktif dan berprestasi ketika mampu membalas tumpukan email sambil mendengarkan rapat virtual, sembari sesekali mengetik draf laporan. Sensasi merasa sibuk ini acap kali disalahartikan sebagai tanda dari produktivitas yang tinggi. Namun, berbagai penelitian mendalam dalam bidang psikologi kognitif dan neurosains justru menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan, bahkan bisa dibilang menakutkan, mengenai cara otak manusia memproses informasi yang datang bertubi-tubi. Melalui artikel komprehensif ini, kita akan membongkar secara detail dan tajam data ilmiah di balik kedua metode ini, serta melihat bagaimana penerapan yang tepat dapat benar-benar mengubah kualitas hidup, kesehatan mental, dan hasil kerja Anda secara keseluruhan ke tingkat yang lebih superior.

Memahami Apa Itu Multitasking dan Dampak Nyatanya Terhadap Biologi Otak

Multitasking, jika ditilik dari arti harfiahnya, berarti melakukan lebih dari satu tugas pada waktu yang bersamaan. Pada awalnya, istilah teknis ini murni digunakan dalam ilmu komputer untuk menggambarkan kemampuan sebuah unit pemrosesan sentral (CPU) untuk menjalankan beberapa program atau proses secara paralel. Namun, ketika istilah ini kemudian diadopsi begitu saja ke dalam ekspektasi perilaku manusia di tempat kerja, terdapat sebuah kesalahan fundamental yang sangat fatal dan sering diabaikan oleh para manajer. Otak manusia secara anatomis sejatinya tidak dirancang untuk memproses dua tugas kognitif yang kompleks secara bersamaan. Alih-alih melakukan tugas-tugas tersebut secara paralel seperti komputer, apa yang sebenarnya dilakukan oleh otak kita adalah berpindah-pindah tugas (task-switching) dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Proses perpindahan tugas yang ekstrem ini mungkin terasa sangat mulus dan instan bagi kesadaran kita, tetapi secara biologis di dalam tempurung kepala kita, ia membutuhkan biaya kognitif yang sangat mahal, yang dalam literatur psikologi disebut sebagai switch cost. Penelitian komprehensif yang dipublikasikan oleh organisasi bergengsi American Psychological Association (APA) mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan: perpindahan tugas yang dilakukan secara terus-menerus dapat menurunkan tingkat produktivitas seseorang hingga mencapai angka 40 persen. Hal ini terjadi karena setiap kali Anda mengalihkan secuil saja perhatian dari satu tugas (misalnya menulis artikel) ke tugas lainnya (misalnya mengecek notifikasi Instagram), otak Anda harus secara paksa mematikan seperangkat aturan kognitif untuk tugas pertama dan menghidupkan aturan kognitif baru untuk tugas kedua. Proses perpindahan dan kalibrasi ulang ini, meskipun sering kali hanya memakan waktu sepersekian detik, terakumulasi menjadi pemborosan waktu dan energi mental yang sangat besar di sepanjang hari kerja Anda.

Fakta yang lebih mengkhawatirkan lagi datang dari sebuah studi klinis yang dilakukan di University of London. Para peneliti menemukan bahwa individu yang melakukan multitasking saat menjalankan tugas-tugas kognitif harian mengalami penurunan skor IQ yang serupa dengan efek negatif kurang tidur semalaman suntuk atau bahkan efek dari mengisap ganja. Penurunan IQ yang terjadi pada subjek pria dewasa dilaporkan bisa mencapai 15 poin, sebuah angka yang signifikan secara statistik, membawa rentang kognitif dan kemampuan pengambilan keputusan mereka turun ke level rata-rata anak yang baru berusia 8 tahun. Data ilmiah yang konkret ini menjadi bukti kuat yang tak terbantahkan bahwa merasa super sibuk dengan melakukan banyak hal sekaligus sama sekali tidak berbanding lurus dengan kecerdasan, apalagi produktivitas kerja yang sebenarnya di dunia nyata.

Mengupas Konsep Deep Work: Kunci Rahasia Produktivitas Tingkat Tinggi

Di sudut yang berlawanan dan berseberangan dari perdebatan sengit Deep Work vs Multitasking, kita menemukan pendekatan yang dinamakan Deep Work. Istilah revolusioner ini dipopulerkan oleh Dr. Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer dari Georgetown University, melalui bukunya yang menjadi best-seller internasional. Newport mendefinisikan deep work (kerja mendalam) sebagai aktivitas dan upaya profesional yang dilakukan dalam kondisi fokus penuh tanpa adanya gangguan sedikit pun, yang pada akhirnya akan mendorong seluruh kemampuan kognitif Anda hingga mencapai batas maksimalnya yang potensial. Upaya-upaya penuh dedikasi semacam ini terbukti secara historis akan menciptakan nilai baru yang masif di pasar, meningkatkan keterampilan teknis secara drastis, dan hasil akhirnya sangat sulit untuk ditiru atau direplikasi oleh pesaing maupun oleh kecerdasan buatan.

Secara neurologis dan struktural, deep work memiliki fondasi yang sangat kokoh dan dapat diukur. Ketika Anda memfokuskan seluruh perhatian Anda hanya pada satu tugas yang menantang secara terus-menerus selama periode waktu tertentu, otak Anda akan merespons dengan memproduksi zat bernama myelin. Myelin adalah sebuah lapisan jaringan lemak berwarna putih yang tumbuh mengelilingi saraf Anda, yang fungsinya sangat mirip seperti isolator pada kabel listrik konvensional. Semakin tebal dan banyak myelin yang berhasil dibentuk di sekitar sirkuit saraf tertentu akibat latihan fokus yang repetitif, semakin cepat, bersih, dan efisien pula neuron tersebut dalam menembakkan sinyal elektrik. Dengan kata lain, kemampuan mempertahankan fokus yang mendalam secara harfiah dan fisik akan mengubah anatomi serta struktur otak Anda untuk menjadi instrumen yang jauh lebih pintar, lebih cepat dalam memproses, dan sangat ahli dalam tugas yang sedang Anda geluti saat itu.

Fakta-fakta ilmiah lanjutan juga dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kualitas akhir dari sebuah mahakarya tidak hanya sekadar ditentukan oleh kuantitas durasi waktu yang dihabiskan di depan meja kerja, tetapi juga sangat bergantung pada intensitas fokus yang dikerahkan selama waktu tersebut. Cal Newport merumuskan sebuah persamaan konseptual yang sangat sederhana namun mendasar: Kualitas Kerja yang Dihasilkan adalah sama dengan Waktu yang Dihabiskan dikalikan dengan Intensitas Fokus. Berdasarkan persamaan logis ini, seorang pekerja profesional yang bekerja keras secara penuh selama 3 jam dengan intensitas fokus level tertinggi (deep work) niscaya akan menghasilkan kualitas karya yang secara eksponensial jauh melampaui seseorang yang "terlihat" sibuk bekerja selama 8 jam dengan tingkat fokus yang terus-menerus terpecah-pecah karena gangguan dan notifikasi ponsel (shallow work).

Fakta Universitas California Irvine: Biaya Waktu dari Sebuah Interupsi

Banyak pekerja kantoran yang berasumsi bahwa melirik notifikasi WhatsApp selama dua detik tidak akan memberikan dampak buruk yang berkepanjangan pada ritme kerja mereka. Sayangnya, asumsi naif ini sepenuhnya salah kaprah. Sebuah riset yang sangat fenomenal dari University of California, Irvine yang dipimpin oleh Dr. Gloria Mark menunjukkan data yang sangat presisi mengenai biaya tersembunyi dari sebuah interupsi. Berdasarkan pengukuran empiris, ternyata dibutuhkan rata-rata waktu 23 menit dan 15 detik bagi otak manusia untuk dapat kembali fokus sepenuhnya pada tugas kognitif yang sedang dikerjakan setelah mengalami interupsi kecil sekalipun.

Bayangkan saja skenario harian ini: Anda sedang menulis laporan keuangan yang rumit, lalu ada rekan kerja yang menepuk pundak Anda untuk bertanya mengenai jadwal makan siang selama sepuluh detik. Waktu sepuluh detik tersebut secara faktual telah merenggut lebih dari 23 menit potensi kerja puncak Anda. Jika dalam satu jam Anda mengalami tiga kali interupsi saja, maka secara praktis Anda tidak pernah benar-benar memasuki fase deep work sama sekali dalam hari itu. Fakta dari data ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa kelelahan yang luar biasa di sore hari meskipun mereka merasa tidak berhasil menyelesaikan satu tugas besar pun; otak mereka terlalu lelah karena dipaksa membayar biaya kalibrasi ulang (switch cost) berkali-kali secara konstan.

Studi Kasus Stanford: Kelemahan Fundamental Para Multitasker Kronis

Mungkin ada sebagian kecil dari kita yang berpikir membela diri bahwa meskipun multitasking terbukti buruk bagi kebanyakan orang awam, namun ada orang-orang tertentu, termasuk diri mereka sendiri, yang "terlatih", berbakat alami, dan sangat ahli dalam melakukannya. Asumsi dan rasa percaya diri yang berlebihan ini dibantah keras oleh sebuah penelitian akademis klasik yang dipimpin oleh mendiang Profesor Clifford Nass dari Stanford University. Nass dan tim penelitinya yang brilian pada awalnya berekspektasi untuk dapat menemukan serta memetakan kemampuan-kemampuan khusus pada mahasiswa-mahasiswa yang mendeskripsikan diri mereka sebagai heavy media multitasker.

Namun, hasil observasi dan pengujian yang dipublikasikan pada tahun 2009 ini justru benar-benar mengejutkan seluruh dunia akademis. Para peneliti secara ketat menguji kemampuan kognitif subjek dalam memfilter informasi luar yang tidak relevan, kecepatan reaksi mereka dalam berpindah tugas, serta keseluruhan kemampuan dan kapasitas memori kerja (working memory) mereka. Hasil pengujiannya sangat ironis: Kelompok yang mengaku sebagai multitasker kronis justru tampil jauh lebih buruk di semua kategori pengujian tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol yang jarang melakukan multitasking. Mereka sangat kesulitan dalam memisahkan informasi yang penting dari gangguan yang tidak penting, mereka terbukti secara matematis lebih lambat dalam berpindah antar tugas, dan kapasitas memori kerja mereka berada di level yang sangat mengkhawatirkan.

Dalam kesimpulan risetnya, Profesor Nass menyatakan dengan tegas bahwa orang yang sudah terlalu terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan pada dasarnya telah secara tidak sengaja "melatih" otak mereka untuk menjadi tidak bisa fokus dan mudah terdistraksi. Otak para multitasker kronis tersebut perlahan menjadi sangat kecanduan pada hal-hal baru yang dangkal dan distraksi-distraksi ringan yang memicu pelepasan dopamin murahan. Ketika seorang penganut multitasking kronis akhirnya diminta untuk benar-benar duduk tenang dan fokus pada satu tugas besar yang mendalam, mereka mengalami kesulitan dan penderitaan luar biasa karena sirkuit saraf di otak mereka yang seharusnya bertanggung jawab untuk fungsi mempertahankan perhatian dalam jangka waktu lama telah mengalami atrofi dan sangat melemah akibat tidak pernah dilatih. Ini adalah data ilmiah konkret yang sangat krusial dalam memberikan pemahaman mengapa mempraktikkan metode deep work secara sengaja adalah hal yang mutlak diperlukan untuk meraih produktivitas level atas yang berkelanjutan.

Mitos, Fakta, dan Kerugian Ekonomi Tersembunyi

Dalam proses memahami secara objektif debat berkepanjangan antara metode kerja yang fokus tajam dan kerja yang serba terpecah, sangatlah penting untuk meluruskan beberapa mitos menyesatkan yang sayangnya telah terlanjur dipercaya dan diamini oleh masyarakat luas secara membabi buta. Salah satu mitos yang paling populer dan sering diulang-ulang di budaya pop adalah anggapan bahwa perempuan memiliki kemampuan biologis multitasking yang secara inheren jauh lebih superior dan tangguh daripada kemampuan laki-laki. Namun, beberapa rentetan penelitian sains yang sangat ekstensif, termasuk yang diterbitkan di dalam jurnal bereputasi tinggi PLOS One pada tahun 2019, sama sekali tidak berhasil menemukan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara performa kognitif laki-laki dan perempuan saat melakukan tes tugas ganda yang rumit. Data menyimpulkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama menderita dan mengalami tingkat penurunan performa kognitif yang parah saat otak mereka dituntut untuk secara paksa fokus pada beberapa hal berbeda dalam satu waktu.

Selain mitos gender, mitos berbahaya kedua adalah eksistensi kelompok yang disebut sebagai "supertaskers", yaitu segelintir orang ajaib yang diklaim bisa melakukan berbagai aktivitas multitasking dengan sangat lancar tanpa mengalami penurunan kualitas kerja atau kelelahan mental. Secara sains, orang-orang dengan mutasi kemampuan seperti ini memang dilaporkan eksis, namun persentase keberadaan mereka di masyarakat sangatlah langka dan mikroskopis, yakni diperkirakan secara longgar hanya berkisar di angka 2 persen dari total populasi ras manusia secara global. Bagi sisa 98 persen dari populasi yang ada, terus berusaha dengan keras dan memaksakan diri untuk bisa bekerja bagaikan seorang supertasker adalah sebuah upaya delusional yang berakhir sia-sia dan justru malah menggerus pondasi produktivitas mereka sendiri. Alih-alih menyiksa diri menjadi sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan desain kodrat biologis otak yang normal, pendekatan yang jauh lebih rasional, masuk akal, dan terbukti secara sains adalah dengan sengaja melatih dan menguasai keterampilan bekerja secara mendalam (deep work).

Dari kacamata ekonomi makro, kerugian yang ditimbulkan oleh budaya multitasking ini sangat mencengangkan. Jonathan Spira, seorang pakar manajemen dan analis produktivitas terkemuka, memperkirakan bahwa kerugian finansial yang diakibatkan oleh kurangnya fokus kerja dan interupsi-interupsi kecil di tempat kerja dapat mencapai angka fantastis 450 miliar dolar per tahun di Amerika Serikat saja. Angka ini mencakup penurunan efisiensi pekerja, kesalahan fatal dalam pengambilan keputusan yang diakibatkan oleh kurangnya konsentrasi, serta biaya inovasi kreatif yang mandek akibat para pekerja terlalu sibuk memadamkan api masalah operasional ketimbang berpikir secara strategis dan jangka panjang.

Strategi Ilmiah dan Langkah Praktis untuk Membangun Kebiasaan Deep Work

Setelah kita dengan jelas memahami sederet fakta dan data valid di atas, langkah paling esensial selanjutnya adalah merancang bagaimana kita, sebagai individu yang modern, bisa segera bertransisi dari lingkungan dan budaya kerja yang sangat toksik serta penuh gangguan, menuju rutinitas disiplin yang sangat mendukung lahirnya fokus tingkat tinggi. Transisi adaptasi ini sudah pasti membutuhkan strategi pertahanan yang terencana dan radikal, mengingat sirkuit saraf otak kita yang sudah bertahun-tahun terbiasa dengan stimulasi informasi instan akan secara refleks memberontak saat dipaksa untuk menyingkirkan ponsel, duduk diam, tenang, dan berfokus tajam. Berikut adalah beberapa langkah implementasi berbasis sains yang sangat dapat dan wajib diaplikasikan mulai besok:

1. Penerapan Teknik Time Blocking Secara Ketat
Otak mamalia dan manusia sangat menyukai dan merespons dengan amat baik terhadap segala bentuk rutinitas dan struktur jadwal yang jelas. Dengan secara disiplin menggunakan teknik penjadwalan time blocking, Anda harus secara proaktif dan spesifik memblokir rentang waktu tertentu (misalnya, pukul 08:00 hingga 10:00 pagi) di kalender digital harian Anda khusus diperuntukkan bagi tugas kognitif yang paling berat dan krusial. Selama rentang waktu suci ini, segala jenis notifikasi harus dibungkam total, pintu ruangan sebaiknya ditutup, dan akses ke jaringan internet yang tidak relevan dengan pekerjaan harus diputus sementara. Ritual penjadwalan ini akan memberikan sinyal kejelasan dan otoritas pada otak Anda bahwa saat tersebut adalah murni waktunya untuk mengerahkan seluruh sisa energi kemampuan kognitif tingkat dewa tanpa perlu takut adanya interupsi yang merusak momentum.

2. Menjalani Latihan Fokus Terstruktur (Metode Pomodoro)
Bagi para pekerja dan pelajar yang masih sangat kesulitan untuk langsung mempertahankan gelombang fokus selama berjam-jam secara nonstop, penerapan teknik Pomodoro bisa menjadi jembatan pelatih yang sangat ampun dan terbukti efektif. Metode klasik ini beroperasi dengan membagi ritme waktu pengerjaan menjadi interval-interval sprint 25 menit fokus absolut yang selalu diikuti oleh 5 menit istirahat penuh. Pendekatan bertahap ini sangat selaras dengan konsep latihan beban (progressive overload) pada otot fisik; batas rentang perhatian kognitif (attention span) manusia juga bisa direhabilitasi dan dilatih perlahan-lahan dari rentang durasi yang amat singkat dan payah, menuju durasi fokus maraton yang jauh lebih panjang, stabil, dan impresif. Selama 25 menit sprint tersebut, aturan dan dogma hukum deep work berlaku secara mutlak: tidak boleh ada perpindahan perhatian sedikit pun, baik untuk sekadar membuka tab baru atau memeriksa pesan singkat.

3. Memeluk Paham Minimalisme Digital Secara Agresif
Tata letak fisik lingkungan kerja Anda ternyata sangat memengaruhi dan menyetir seberapa jauh kemampuan memori kerja kita untuk mampu berkonsentrasi tinggi. Sebuah studi revolusioner yang diterbitkan secara luas di Journal of the Association for Consumer Research pada tahun 2017 menemukan hasil yang sangat mengejutkan bahwa hanya dengan melihat kehadiran fisik sebuah smartphone yang tergeletak pasif di atas meja di sebelah kita, bahkan dalam kondisi mesin benar-benar dimatikan, kapasitas memori kerja dan kognitif spasial seseorang nyatanya sudah berkurang secara drastis. Fenomena pengurasan otak ini oleh para pakar disebut dengan istilah "brain drain". Oleh karena landasan empiris tersebut, sebuah tindakan sederhana berupa menyingkirkan dan menyembunyikan perangkat elektronik pengganggu dari jangkauan jarak pandang visual Anda ke ruangan lain adalah langkah mendasar dan sangat esensial yang tak boleh disepelekan untuk mulai memfasilitasi terjadinya proses kerja yang luar biasa mendalam.

Kesimpulan Akhir: Kualitas Mendalam Akan Selalu Mengalahkan Kuantitas Dangkal

Pada titik puncak akhir dari semua ulasan ini, analisis komparatif yang sangat mendalam terkait tajuk perbandingan monumental antara Deep Work vs Multitasking bermuara pada dan memberikan kesimpulan akhir yang tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk keraguan. Kumpulan data ilmiah kuantitatif, puluhan laporan penelitian psikologi modern, hingga berbagai penemuan paling mutakhir dalam ranah ilmu neurosains, secara konsisten dan meyakinkan menunjuk hanya pada satu fakta solid yang tak lagi terbantahkan: anatomi dan jaringan otak kompleks manusia selalu bekerja pada tingkat performa yang paling optimal, paling inovatif, kreatif, dan menakjubkan tingkat efisiensinya hanya pada saat ia diizinkan oleh empunya untuk secara tulus berfokus secara penuh dan tanpa syarat pada satu, dan hanya satu tugas saja, dalam suatu rentang waktu tertentu. Multitasking, meskipun dipuja-puja oleh para manajer mikro, tidak lebih dari sekadar fatamorgana dan ilusi produktivitas semu yang perlahan tapi pasti merampok dan menguras habis energi mental harian Anda, yang pada gilirannya akan sangat menurunkan potensi tingkat kecerdasan sesaat, mengacaukan kemampuan pengambilan keputusan, dan sudah dipastikan hanya akan melahirkan hasil output pekerjaan dengan standar kualitas menengah ke bawah yang penuh dengan kecacatan serta margin tingkat kesalahan (error rate) yang sangat mengkhawatirkan tingginya.

Di era ekonomi pengetahuan saat ini di mana derakan informasi dan kebisingan digital begitu murah dan melimpah ruah di sekeliling kita, kemampuan kognitif organik untuk mampu fokus memusatkan perhatian telah berevolusi menjadi sebuah komoditas aset mental yang sangat mahal dan kian langka. Kemampuan luhur untuk dengan sengaja menginisiasi dan melakukan aktivitas deep work bukan lagi bisa dianggap sekadar sebagai sebuah pilihan gaya hidup (lifestyle) atau preferensi kerja belaka, melainkan ini adalah sebuah senjata rahasia dan keuntungan kompetitif (competitive advantage) yang paling langka, tidak mudah ditiru, dan sangat berharga dalam membangun fondasi karir masa depan yang tak tergoyahkan oleh disrupsi otomatisasi AI sekalipun. Mereka-mereka, segelintir individu unggul, yang mampu secara disiplin melatih sirkuit otak keras kepala mereka untuk tetap bertahan dan terfokus teguh di tengah amukan badai lautan distraksi digital, merekalah yang esok harinya akan menjelma dan muncul ke permukaan sebagai kelompok elit individu-individu pencerah yang berhasil menciptakan berbagai inovasi karya agung terbaik peradaban, mampu dengan elegan memecahkan berbagai permasalahan struktural tersulit bagi perusahaan, dan pada akhirnya merekalah yang akan senantiasa meraih puncak kesuksesan tertinggi serta kepuasan batin tanpa tanding di bidang profesi spesialisasi mereka masing-masing. Ingatlah dengan baik, hari ini adalah momen krusialnya; mulailah segera mengevaluasi ulang rutinitas Anda dan secara proaktif mengeliminasi, tanpa kompromi, segala wujud gangguan notifikasi yang tidak esensial dari ekosistem hidup Anda hari ini juga, dan perlahan rasakan serta buktikan sendiri bagaimana daya magis dari sebuah kebiasaan fokus yang intens dan mendalam dapat secara nyata mentransformasi lonjakan jenjang produktivitas harian Anda melesat jauh menuju ke level tertinggi pencapaian yang mungkin, sebelumnya, belum pernah berani Anda bayangkan untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata Anda.



Baca Juga Artikel Lain dari MyReducation: 5 Cara Mendapatkan Beasiswa Luar Negeri Jalur Prestasi Non-Akademik

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0