MPLS 2025 Kembali ke Esensinya: Kemendikbudristek Larang Tegas Tugas yang Bebani Orang Tua

Kemendikbudristek secara tegas melarang tugas MPLS 2025 yang membebani orang tua.

Jul 14, 2025 - 16:33
Jul 14, 2025 - 16:34
 0  10
MPLS 2025 Kembali ke Esensinya: Kemendikbudristek Larang Tegas Tugas yang Bebani Orang Tua

Surabaya – Pekan ini, Senin, 14 Juli 2025, menjadi momen yang sibuk bagi jutaan orang tua di seluruh Indonesia yang anaknya baru saja melangkahkan kaki ke jenjang sekolah baru. Namun, ada angin segar yang membawa kelegaan di tengah hiruk pikuk persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kekhawatiran akan tugas-tugas aneh yang merepotkan dan membebani kantong kini dijawab dengan sebuah ketegasan dari pemerintah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), secara resmi mengeluarkan imbauan keras yang melarang segala bentuk tugas MPLS yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan dan justru membebani orang tua murid. Kebijakan ini menjadi penegas bahwa era MPLS yang identik dengan perploncoan terselubung dan tugas mencari barang-barang absurd telah berakhir.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di Jakarta, Wamendikdasmen menekankan bahwa esensi sejati dari MPLS adalah untuk membangun jembatan adaptasi bagi siswa. "Tujuan utama MPLS adalah mengenalkan siswa pada ekosistem sekolah yang baru: para gurunya, fasilitasnya, budayanya, serta teman-temannya. Ini adalah momen untuk membangun koneksi positif, bukan membebani keluarganya dengan tugas mencari atribut atau bahan makanan dengan merek yang sulit ditemukan," ujar beliau.

Aturan tegas ini lahir dari evaluasi mendalam dan banyaknya masukan dari masyarakat selama bertahun-tahun. Praktik di mana siswa diminta membawa benda-benda seperti "cokelat berjerawat" atau "minuman pahlawan" seringkali tidak hanya membuat bingung siswa, tetapi juga memaksa orang tua untuk berkeliling hingga larut malam. Alih-alih mendidik, kegiatan semacam itu justru menciptakan kepanikan yang tidak perlu dan melenceng jauh dari nilai pendidikan karakter yang seharusnya ditanamkan.

Kabar ini disambut dengan sangat baik oleh para orang tua. Wati, seorang ibu di Surabaya yang putranya baru masuk SMP, mengaku sangat lega. "Tahun-tahun sebelumnya saya sering dengar cerita teman yang pusing tujuh keliling karena tugas MPLS anaknya. Ada yang harus mencari tali rafia warna tertentu sampai ke luar kota. Alhamdulillah kalau sekarang aturannya sudah jelas, jadi kami bisa fokus menyiapkan mental anak untuk sekolah, bukan sibuk dengan hal-hal yang tidak penting," ungkapnya.

Sebagai gantinya, Kemendikbudristek mendorong sekolah untuk merancang kegiatan MPLS yang lebih substantif dan mendidik. Sekolah diimbau untuk mengisi pekan pertama dengan kegiatan seperti tur keliling sekolah, pengenalan visi dan misi, sesi diskusi dengan kakak kelas berprestasi, permainan kerja sama tim, serta sosialisasi program anti-perundungan. Kegiatan ini diyakini lebih efektif dalam membangun rasa memiliki dan kenyamanan siswa terhadap lingkungan barunya.

Dengan adanya larangan ini, MPLS 2025 diharapkan benar-benar kembali ke khitahnya sebagai masa orientasi yang positif, menyenangkan, dan edukatif. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa gerbang pertama seorang anak memasuki dunia sekolah yang baru dipenuhi dengan kenangan indah dan semangat belajar, bukan dengan beban dan kebingungan yang tidak perlu. Selamat tinggal tugas merepotkan, selamat datang MPLS yang bermakna.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0